AYAT-AYAT YANG BERKAITAN DENGAN ALAM





MAKALAH

AYAT-AYAT YANG BERKAITAN DENGAN ALAM

 Disusun untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah : Tafsir

Dosen Mata Kuliah : Drs. Rofi’i, M.Ag.

Hasil gambar untuk logo iain palangkaraya

Disusun Oleh :

Fajar Sidiq

NIM 1901110108

Irgi Rahmat Iswanto

NIM 1901110060

Muhammad Al Amin

NIM 1901110123

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

TAHUN 2020 M/ 1441 H


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh...

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah  SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya kami  mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “AYAT-AYAT YANG BERKAITAN DENGAN ALAM”, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi dan referensi.

Semoga makalah ini dapat memeberikan wawasan yang lebih luas  dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing kami meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

 

Palangka Raya, 10 April 2020

 

 

Tim Penulis

 


 

DAFTAR ISI

 

Halaman Judul...........................................................................................................i

Kata Pengantar ii

Daftar Isi iii

 

BAB 1 PENDAHULUAN.. 1

A. Latar Belakang. 1

B. Rumusan Masalah. 2

C. Tujuan Penulisan. 2

 

BAB II PEMBAHASAN.. 3

A. Pengertian Alam.. 3

B. Ayat-Ayat yang berkaitan dengan Alam.. 5

 

BAB III PENUTUP. 15

A. Kesimpulan. 15

B. Saran. 18

 

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

            Alam semesta merupakan suatu ruang atau tempat bagi manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan benda-benda lainnya. Langit sebagai atapnya dan bumi sebagainya lantainya. Jadi, alam semesta atau jagat raya adalah satu ruang yang maha besar, terdapat kehidupan yang biotik dan abiotik. Tuhan menciptakan bermacam-macam makhluk, tetapi yang paling istimewa dan sempurna yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal, agar manusia dapat membedakan baik atau buruknya sesuatu. Akan tetapi yang menjadi pembicaraan sekarang ini adalah bagaimana proses terjadinya alam semesta? Para ahli sudah banyak yang mengeluarkan pendapat tentang proses terjadinya alam tersebut, dan bahkan mereka rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan argumennya, dan bahkan sampai saat ini masih belum ada yang mengetahui betul tetang proses terbentuknya alam semesta ini. Kita sebagai Muslim tentunya sudah tidak meragukan lagi tentang alam semesta karena meyakini apa yang disebutkan dalam Al- Qur’an adalah benar, salah satunya yaitu tentang proses tentang terjadinya alam semesta. Al-Qur’an merupakan sumber dari segala ilmu. Di dalam al-Qur’an disebutkan kejadian tentang alam semesta dan kejadian-kejadian lainnya. Alam semesta merupakan salah satu bukti kebesaran Tuhan. Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya untuk manusia sebagai khilafah dibumi dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat-Nya. Meskipun demikian, al-Qur’an bukan buku kosmologi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting dari saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud.

Keingintahuan manusia tentang alam semesta tidak hanya membaca al-Qur’an saja, akan tetapi melakukan perrintah Tuhan. Sehingga ia menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Qur’an.

 

 

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian dari alam itu ?

2. Apa sajakah ayat-ayat Al-Qur,an yang berkaitan dengan alam ?

 

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian dari alam itu.

2. Untuk mengetahui ayat-ayat Al-Qur,an yang berkaitan dengan alam.


 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Alam

Kata alam merupakan serapan dari bahasa Arab yang berakar dari  kata “علم“ yang mempunyai arti dasar bekas atau tanda sesuatu yang membedakan dengan yang lain.[1]

Di dalam bahasa Indonesia, alam mempunyai bermacam-macam arti, antara lain: 1). dunia; 2). segala yang ada di langit dan di bumi (seperti bumi, bintang-bintang, kekuatan-kekuatan); 3. daerah (keadaan, masa, kehidupan, dan sebagainya);  3). segala sesuatu yang termasuk dalam satu lingkungan (golongan dsb) dan dianggap sebagai satu keutuhan; 4. segala daya (kekuatan dsb.) yg menyebabkan terjadinya dan seakan-akan mengatur segala sesuatu yang ada di dunia ini, seperti: hukum alam; ilmu alam.[2]

Dari makna etimologi yang dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa alam adalah semua yang ada; baik yang bersifat materi atau nonmateri, yang dilihat atau yang tidak. Tuhan tidak termasuk alam, walaupun Dia “Ada”, karena Dia tidak bersifat materi atau non materi. 

Berangkat dari pengertian bahasa ini, para ulama memberikan definisi tidak jauh berbeda dengan makna bahasa tersebut. Al-Ragib al-Asfahaniy (502 H.), memberikan batasan bahwa “al-‘alam” adalah nama orbit dan apa yang dihimpunnya dari jauhar (subtansi) dan ‘araḍ (accident), makna dasarnya adalah nama yang diperuntukkan kepada sesuatu yang dikenal. Al-‘alam adalah alat dalam memberikan petunjuk untuk mengetahui pembuatnya. Makna yang hampir sama juga disampaikan oleh al-Jurjani (740-816 H.) bahwa “alam” “semua yang ada selain Allah. Karena semua yang ada merupakan bukti keberadaan-Nya.

Dalam al-Mu‘jam al-Falsafiy disebutkan bahwa alam mempunyai dua pengertian, yaitu:  makna umum seperti yang telah disebutkan, dan makna khusus, yaitu segala seseuatu yang ada dalam satu kelompok yang sejenis. Selain term alam, yang menunjukkan makna alam, dalam bahasa Arab dikenal juga dengan term al-kaun. Hanya term ini tidak dijumpai dalam Alquran. Makna al-kaun  dalam al-Mu’jam al-Falsafiy diartikan dengan wujudnya alam, yaitu alam yang mempunyai sistem yang teratur, atau dapat juga diartikan dengan yang tercipta dari tidak ada menjadi ada. Ilmu yang mempelajari tentang hukum umum tentang alam disebut ‘ilm al-kaun. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa makna al-kaun lebih sempit dibanding dengan al-‘alam.

Dalam Alquran term al-‘alam tidak dijumpai dalam bentuk tunggal (mufrad), kecuali dalam bentuk plural  "العالمین"  (jama’), bentuk ini disebutkan sebanyak 74 kali, dan dari 74 kali itu sebanyak 42 kali di-mudaf-kan kepada rabb. Hal ini menunjukkan bahwa adanya alam-alam lain selain alam kita, dan semua alam ini dibawah kendali-Nya.

Penjelasan ayat-ayat Alquran tentang alam raya disebut dengan ayat-ayat kauniyah dan banyak menggunakan kata atau lafal السماء(langit) atauالسماوات (langit-langit) yang hampir selalu bergandengan dengan lafal  الأرض (bumi). Kata  السماءdalam bentuk tunggal disebutkan dalam Alquran sebanyak 120 kali, dan 190 kali dalam bentuk jamak, kata الأرض digunakan sebanyak 460 kali, ungkapan langit dan bumi atau langit-langit dan bumi dikemukakan lebih dari 200 kali. Kenyataan ini mengharuskan untuk dikatakan bahwa sangat sulit untuk membahas yang satu tanpa mengikutsertakan yang lain.

Dengan demikian, saat Allah swt. memberitakan proses terjadinya alam maka objeknya adalah langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya  termasuk angkasa, karena menurut pengertian bahasa bahwa السماءmempunyai makna dasar “di atas” atau “tinggi”. Alquran tidak menggunakan lafal dunyā, karena pasangan dunyā adalah akhirat. Hal ini bermakna bahwa langit dan bumi mewakili dimensi vertikal dan statis dari kosmos, sedangkan dunia dan akhirat mewakili hubungan horizontal dan dinamis antara situasi kita sekarang dalam kehidupan ini, dan situasi masa depan kita setelah kematian. Hubungan statis antara langit dan bumi akan tetap kuat hingga hari akhir, namun selanjutnya ia akan hidup dalam bentuk yang telah berubah.[3] Sebagaimana dalam Q.S. Ibrāhīm (14):48.

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ ۖ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ(٤٨)

Artinya: (yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka manusia berkumpul (di padang Mahsyar) menghadap Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

Dengan uraian di atas, maka yang dimaksud dengan alam dalam Alqurab adalah segala sesuatu selain Allah, namun apabila berbicara tentang penciptaan, maka yang dimaksud adalah langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.   

B. Ayat-Ayat yang berkaitan dengan Alam

Di dalam Al-Qur’an sebenarnya banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan alam. Tapi, disini tim penulis hanya memuat beberapa ayat yang sesuai dengan silabus mata kuliah Tafsir yang diberikan oleh dosen pengampu dari tim penulis. Yakni, Surat Al-Baqarah ayat 29, Surat Al-‘Araf ayat 54, Ali ‘Imran ayat 190, Surat Ibrahim ayat 32&34 dan terakhir Surat Al-Hadid ayat 27.


 

1. Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 29

هُوَ الَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوآى إِلَى السَّمَآءِ فَسَوّاىهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍج وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ (٢٩)

Artinya: Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat ini tergolong surat madaniyah dan tidak ada sebab nuzulnya, dalam ayat terdapat خَلَقَ لَكُم مَّا فِى الْأَرْضِ bahwa segala sesuatu yang di bumi diciptakan Allah untuk kemanfaatan manusia baik untuk agama maupun dunia. Adapun kemanfaatan di dunia adalah untuk kemaslahatan diri atau badan dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah.

Menurut Al-Alusy bahwa segala sesuatu yang ada di bumi bukan di khususkan untuk tertentu atau personel. Segala sesuatu yang ada di bumi itu untuk kemanfaatan yang tidak ada batasannya dan ini sebagai nikmat bagi manusia. dan ayat ini sebagai dalil bahwa segala sesuatu itu dibolehkan atau mubah.[4]

Tafsir Jalalain:

 Dialah yang telah menciptakan bagimu segala yang terdapat di muka bumi yaitu menciptakan bumi beserta isinya, (kesemuanya) agar kamu memperoleh manfaat dan mengambil perbandingan darinya, (kemudian Dia hendak menyengaja hendak menciptakan) artinya setelah menciptakan bumi tadi Dia bermaksud hendak menciptakan pula (langit, maka dijadikan-Nya langit itu) 'hunna' sebagai kata ganti benda yang dimaksud adalah langit itu. Maksudnya ialah dijadikan-Nya, sebagaimana didapati pada ayat yang lain, 'faqadhaahunna,' yang berarti maka ditetapkan-Nya mereka, (tujuh langit dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu) dikemukakan secara 'mujmal' ringkas atau secara mufasshal terinci, maksudnya, "Tidakkah Allah yang mampu menciptakan semua itu dari mula pertama, padahal Dia lebih besar dan lebih hebat daripada kamu, akan mampu pula menghidupkan kamu kembali?"[5]

Jadi, kaitanya ayat ini dengan alam ialah bumi dan seisinya diciptakan oleh Allah SWT untuk diambil kemanfaatnya oleh manusia baik untuk agama maupun dunia.

2. Qur’an Surah Al-A’raf Ayat 54

إِنَّ رَبَّكُمُ ﷲُ الَّذِى خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَواى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُه6 حَثِيْثًا وَّاالشَّمْسَ والْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرَاتٍ مبِاَمْرِه١قلى اَلَالَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُقلى تَبَارَكَ ﷲُ رَبُّ العَالَمِيْنَ (٥٤)

Artinya: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Tafsir Jalalain:

(Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa) menurut ukuran hari dunia atau yang sepadan dengannya, sebab pada zaman itu masih belum ada matahari. Akan tetapi jika Allah menghendakinya niscaya Ia dapat menciptakannya dalam sekejap mata, adapun penyebutan hal ini dimaksud guna mengajari makhluk-Nya agar tekun dan sabar dalam mengerjakan sesuatu (lalu Dia bersemayam di atas Arsy) Arsy menurut istilah bahasa artinya singgasana raja, yang dimaksud dengan bersemayam ialah yang sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya (Dia menutupkan malam kepada siang) bisa dibaca takhfif yakni yughsyii dan dibaca tasydid, yakni yughasysyii, artinya: keduanya itu saling menutupi yang lain silih-berganti (yang mengikutinya) masing-masing di antara keduanya itu mengikuti yang lainnya (dengan cepat) secara cepat (dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan dan bintang-bintang) dengan dibaca nashab diathafkan kepada as-samaawaat, dan dibaca rafa` sebagai mubtada sedangkan khabarnya ialah (masing-masing tunduk) patuh (kepada perintah-Nya) kepada kekuasaan-Nya (ingatlah, menciptakan itu hanya hak Allah) semuanya (dan memerintah) kesemuanya adalah hak-Nya pula (Maha Suci) Maha Besar (Allah, Tuhan) Pemelihara (semesta alam).[6]

Jadi, hubungan ayat ini dengan alam ialah bahwa semua ciptaan yang diciptakan Allah SWT di alam semesta ini untuk mengingatkan bahwa hanya Dia lah yang mempunyai hak untuk menciptakan seluruh alam semesta dan memerintah semua ciptaan-Nya.

3. Qur’an Surah Ali Imran Ayat 190

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ والْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاايَاتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ (١٩٠)

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.

As-Suyuthi dalam kitabnya menyebutkan mengenai asbabun nuzul Surah Ali-Imran ayat 190 dengan mengutip hadits riwayat ath-Thabrani. Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Orang-orang Quraisy mendatangi orang-orang Yahudi dan bertanya kepada mereka, “Apa tanda-tanda yang dibawa Musa kepada kalian?” Orang-orang Yahudi itu menjawab, “Tongkat dan tangan yang putih bagi orang-orang yang melihatnya. Lalu orang-orang Quraisy itu mendatangi orang-orang Nasrani, lalu bertanya kepada mereka, “Apa tanda-tanda yang diperlihatkan Isa?” Mereka menjawab, “Dia dulu menyembuhkan orang yang buta, orang yang sakit kusta dan menghidupkan orang mati”. Lalu mereka mendatangi Nabi saw. lalu mereka berkata kepada beliau, “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk mengubah bukit Shafa dan Marwah menjadi emas untuk kami. Lalu beliau berdoa, maka turunlah firman Allah Surah Ali Imran ayat 190.[7]

Menurut Ibnu Kasir dalam tafsirnya mengatakan, riwayat ini sulit dimengerti, mengingat ayat ini adalah ayat Madaniyyah, sedangkan permintaan mereka yang menghendaki agar bukit Shafa dan Marwah menjadi emas adalah di Mekah.[8] Namun demikian riwayat ini menjelaskan mengenai sebab turunnya Surah Ali-‘Imran ayat 190 dan sebagai penjelas baginya.

Tafsir Jalalain:

(Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi) dan keajaiban-keajaiban yang terdapat pada keduanya (serta pergantian malam dan siang) dengan datang dan pergi serta bertambah dan berkurang (menjadi tanda-tanda) atau bukti-bukti atas kekuasaan Allah swt. (bagi orang-orang yang berakal) artinya yang mempergunakan pikiran mereka.[9]

Jadi, di ayat ini menjelaskan keterkaitannya dengan alam bahwa alam ciptaan-Nya dan penomenanya merupakan tanda-tanda kebesaran kekuasaan-Nya bagi orang yang memahami.


 

4. Qur’an Surah Ibrahim Ayat 32 dan 34

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ (٣٢)

Artinya: Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

Tafsir Jalalain:

 (Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untuk kalian dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian) yang dimaksud adalah perahu (supaya bahtera itu berlayar di lautan) sehingga kalian dapat menaikinya dan memuat barang-barang di atasnya (dengan kehendak-Nya) dengan seizin-Nya (dan Dia telah menundukkan pula bagi kalian sungai-sungai.)[10]

Kaitannya dengan alam ayat ini menjelaskan bahwa apa-apa yang diciptakan Allah di alam ini dan Allah lah pula yang menundukkannya atau memerintahkan semua ciptaan-Nya untuk melakukan semua apa yang dikehendaki-Nya supaya kita dapat mengambil manfaat dari semua ciptaan-Nya.

Dan selanjutnya ayat 34:

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (٣٤)

Artinya: Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

(Dan Dia telah memberikan kepada kalian dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya) sesuai dengan keperluan kalian (Dan jika kalian menghitung nikmat Allah) pemberian nikmat-Nya kepada kalian (tidaklah dapat kalian menghitungnya) kalian tidak akan mampu menghitung-hitungnya. (Sesungguhnya manusia itu) yang dimaksud adalah orang kafir (sangat lalim dan sangat ingkar) artinya banyak berbuat aniaya terhadap dirinya dengan cara melakukan maksiat dan banyak ingkar terhadap nikmat Rabbnya.[11]

Jika, kita mengaitkan ayat ini dengan alam berarti dapat kita simpulkan bahwa semua apa-apa yang diciptakan oleh Allah dan kita dapat mendapatkan manfaatnya, sungguh itu merupakan suatu nikmat Allah dari perantara alam yang tidak dapat kita hitung sama sekali karena nikmat-Nya yang diberikan tanpa henti sehingga kita tidak mampu untuk membalas-Nya. Tapi, dengan banyaknya nikmat itu ayat ini mendorong kita untuk mengingat jangan lupa dalam bersyukur kepada-Nya karena dalam diri manusia bisa menumbuhkan sifat zalim sehingga ia sangat mudah kufur dengan nikmat Allah SWT.


 

5. Qur’an Surah Al-Hadid Ayat 27

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (٢٧)

Artinya:  Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.

Tafsir Jalalain:

 (Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi pula dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan kerahbaniyahan) yakni tidak mau kawin dan hidup membaktikan diri di dalam gereja-gereja (yang mereka ada-adakan) oleh diri mereka sendiri (padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka) Kami tidak memerintahkan hal itu kepada mereka (tetapi) melainkan mereka mengerjakannya (untuk mencari keridaan) demi mencari kerelaan (Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya) karena kebanyakan di antara mereka meninggalkannya dan kafir kepada agama Nabi Isa, lalu mereka memasuki agama raja mereka. Akan tetapi masih banyak pula di antara mereka yang berpegang teguh kepada ajaran Nabi Isa, lalu mereka beriman kepada Nabi Muhammad. (Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman) kepada Nabi Isa (di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik).[12]

Secara simple memahami mungkin kita akan bingung apa kaitannya ayat ini dengan alam tapi jika kita kias makna ayat ini dan dihubungkan dengan alam maka kaitannya pun akan mulai terlihat. Dalam ayat ini perlu kita garis bawahi kata-kata kunci yang dapat kita kias dan kaitkan ke alam. Kiasannya tidak merubah makna hanya saja objeknya yang berbeda.

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan dan menanamkan sifat kasih sayang dan rasa santun bagi orang yang benar-benar beriman kepada Rasul-Nya dan Kitab-Nya. Dalam kisah ayat ini menceritakan umat Nabi Isa A.S. yang mempunyai cinta yang berlebihan kepada Tuhannya sampai-sampai mereka tidak mau kawin dan hidup di dalam gereja padahal Allah tidak memerintahkan seperti itu. Sebab, cinta yang berlebihan mereka malah lupa untuk memelihara Kitab mereka dengan pemeliharaan yang semestinya dan kebanyakkan dari mereka ada juga yang menjadi kafir dan lebih memilih agama raja mereka. Akan tetapi, masih banyak pula diantara mereka yang beriman kepada Nabi Isa A.S. sampai beriman kepada Nabi Muhammad SAW. karena mereka masih beriman sampai saat itu maka diberikanlah pahala oleh Allah SWT.

Jadi, untuk mengaitkan dengan alam pertama kita ambil kata kunci dalam ayat untuk mengisi makna yang akan kita kaitkan dengan alam. Kata kunci yang dapat kita ambil ialah cinta yang berlebihan. Perlu kita ketahui setiap manusia pasti mempunyai akal untuk berpikir tetapi kebanyakkan Umat Nabi Isa A.S. tidak menggunakan itu dengan sebaiknya-baiknya sehingga mereka mempunyai cinta yang berlebihan yang tidak sesuai dengan ajaran mereka ditambah Allah SWT. menanamkan sifat kasih sayang dan rasa santun untuk orang-orang yang beriman saat itu.

Jadi, kiasannya ialah bahwa umat manusia yang beriman pasti mempunyai rasa cinta dalam dirinya baik cinta kepada tuhan dan sesama. Selain cinta kepada tuhan dan sesama pasti ada juga rasa cinta kepada seluruh makhluk hidup di alam semesta ini karena apa-apa yang dicintai Allah SWT. mereka juga akan mencintainya dengan petunjuk yang diberikan. Dalam alam ini pasti semua dicintai oleh orang-orang yang beriman baik cinta lingkungan yang alam bersih, cinta kepada pemandangan-pemandangan yang indah, dan cinta yang berhubungan dengan alam lainnya. Maksud cinta disini kita mencintai karena Allah SWT. yang menciptakanya.

Dengan kasih sayang orang beriman perlu didampingi denga akal. Sebab, orang-orang akan mudah lupa dengan ajaran yang disampaikan oleh Rasul sehingga mereka mempunyai cinta yang berlebihan yang tidak sesuai dengan Nabi kita. Mereka menjadi khilaf dan berpoya-poya atau terlalu menyayangi dunia dan lupa akan penciptanya. Jadi, Cinta yang berlebihan itu boleh dengan catatan harus didampingi dengan akal dan tidak lupa kita mencintai karena Allah Tuhan kita yang menciptakan.


 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Kata alam merupakan serapan dari bahasa Arab yang berakar dari  kata “علم“ yang mempunyai arti dasar bekas atau tanda sesuatu yang membedakan dengan yang lain.

Para ulama memberikan definisi tidak jauh berbeda dengan makna bahasa tersebut. Al-Ragib al-Asfahaniy (502 H.), memberikan batasan bahwa “al-‘alam” adalah nama orbit dan apa yang dihimpun-Nya. Makna dasarnya adalah nama yang diperuntukkan kepada sesuatu yang dikenal. Al-‘alam adalah alat dalam memberikan petunjuk untuk mengetahui pembuatnya. Makna yang hampir sama juga disampaikan oleh al-Jurjani (740-816 H.) bahwa “alam” “semua yang ada selain Allah. Karena semua yang ada merupakan bukti keberadaan-Nya.

Penjelasan ayat-ayat Alquran tentang alam raya disebut dengan ayat-ayat kauniyah dan banyak menggunakan kata atau lafal السماء(langit) atauالسماوات (langit-langit) yang hampir selalu bergandengan dengan lafal  الأرض (bumi). Kata  السماءdalam bentuk tunggal disebutkan dalam Alquran sebanyak 120 kali, dan 190 kali dalam bentuk jamak, kata الأرض digunakan sebanyak 460 kali, ungkapan langit dan bumi atau langit-langit dan bumi dikemukakan lebih dari 200 kali.

Di dalam Al-Qur’an sebenarnya banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan alam. Tapi, disini tim penulis hanya memuat beberapa ayat yang sesuai dengan silabus mata kuliah Tafsir yang diberikan oleh dosen pengampu dari tim penulis. Yakni, Surat Al-Baqarah ayat 29, Surat Al-‘Araf ayat 54, Ali ‘Imran ayat 190, Surat Ibrahim ayat 32&34 dan terakhir Surat Al-Hadid ayat 27.

1. Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 29

Kaitanya ayat ini dengan alam ialah bumi dan seisinya diciptakan oleh Allah SWT untuk diambil kemanfaatnya oleh manusia baik untuk agama maupun dunia.

2. Qur’an Surah Al-A’raf Ayat 54

Hubungan ayat ini dengan alam ialah bahwa semua ciptaan yang diciptakan Allah SWT di alam semesta ini untuk mengingatkan bahwa hanya Dia lah yang mempunyai hak untuk menciptakan seluruh alam semesta dan memerintah semua ciptaan-Nya.

3. Qur’an Surah Ali Imran Ayat 190

Di ayat ini menjelaskan keterkaitannya dengan alam bahwa alam ciptaan-Nya dan penomenanya merupakan tanda-tanda kebesaran kekuasaan-Nya bagi orang yang memahami.

4. Qur’an Surah Ibrahim Ayat 32 dan 34

Kaitan ayat 32 dengan alam:

Kaitannya dengan alam ayat ini menjelaskan bahwa apa-apa yang diciptakan Allah di alam ini dan Allah lah pula yang menundukkannya atau memerintahkan semua ciptaan-Nya untuk melakukan semua apa yang dikehendaki-Nya supaya kita dapat mengambil manfaat dari semua ciptaan-Nya.

Dan  selanjutnya ayat 34:

Jika, kita mengaitkan ayat ini dengan alam berarti dapat kita simpulkan bahwa semua apa-apa yang diciptakan oleh Allah dan kita dapat mendapatkan manfaatnya, sungguh itu merupakan suatu nikmat Allah dari perantara alam yang tidak dapat kita hitung sama sekali karena nikmat-Nya yang diberikan tanpa henti sehingga kita tidak mampu untuk membalas-Nya. Tapi, dengan banyaknya nikmat itu ayat ini mendorong kita untuk mengingat jangan lupa dalam bersyukur kepada-Nya karena dalam diri manusia bisa menumbuhkan sifat zalim sehingga ia sangat mudah kufur dengan nikmat Allah SWT.

5. Qur’an Surah Al-Hadid Ayat 27

Secara simple memahami mungkin kita akan bingung apa kaitannya ayat ini dengan alam tapi jika kita kias makna ayat ini dan dihubungkan dengan alam maka kaitannya pun akan mulai terlihat. Dalam ayat ini perlu kita garis bawahi kata-kata kunci yang dapat kita kias dan kaitkan ke alam. Kiasannya tidak merubah makna hanya saja objeknya yang berbeda.

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan dan menanamkan sifat kasih sayang dan rasa santun bagi orang yang benar-benar beriman kepada Rasul-Nya dan Kitab-Nya. Dalam kisah ayat ini menceritakan umat Nabi Isa A.S. yang mempunyai cinta yang berlebihan kepada Tuhannya sampai-sampai mereka tidak mau kawin dan hidup di dalam gereja padahal Allah tidak memerintahkan seperti itu. Sebab, cinta yang berlebihan mereka malah lupa untuk memelihara Kitab mereka dengan pemeliharaan yang semestinya dan kebanyakkan dari mereka ada juga yang menjadi kafir dan lebih memilih agama raja mereka. Akan tetapi, masih banyak pula diantara mereka yang beriman kepada Nabi Isa A.S. sampai beriman kepada Nabi Muhammad SAW. karena mereka masih beriman sampai saat itu maka diberikanlah pahala oleh Allah SWT.

Jadi, untuk mengaitkan dengan alam pertama kita ambil kata kunci dalam ayat untuk mengisi makna yang akan kita kaitkan dengan alam. Kata kunci yang dapat kita ambil ialah cinta yang berlebihan. Perlu kita ketahui setiap manusia pasti mempunyai akal untuk berpikir tetapi kebanyakkan Umat Nabi Isa A.S. tidak menggunakan itu dengan sebaiknya-baiknya sehingga mereka mempunyai cinta yang berlebihan yang tidak sesuai dengan ajaran mereka ditambah Allah SWT. menanamkan sifat kasih sayang dan rasa santun untuk orang-orang yang beriman saat itu.

Jadi, kiasannya ialah bahwa umat manusia yang beriman pasti mempunyai rasa cinta dalam dirinya baik cinta kepada tuhan dan sesama. Selain cinta kepada tuhan dan sesama pasti ada juga rasa cinta kepada seluruh makhluk hidup di alam semesta ini karena apa-apa yang dicintai Allah SWT. mereka juga akan mencintainya dengan petunjuk yang diberikan. Dalam alam ini pasti semua dicintai oleh orang-orang yang beriman baik cinta lingkungan yang alam bersih, cinta kepada pemandangan-pemandangan yang indah, dan cinta yang berhubungan dengan alam lainnya. Maksud cinta disini kita mencintai karena Allah SWT. yang menciptakanya.

Dengan kasih sayang orang beriman perlu didampingi denga akal. Sebab, orang-orang akan mudah lupa dengan ajaran yang disampaikan oleh Rasul sehingga mereka mempunyai cinta yang berlebihan yang tidak sesuai dengan Nabi kita. Mereka menjadi khilaf dan berpoya-poya atau terlalu menyayangi dunia dan lupa akan penciptanya. Jadi, Cinta yang berlebihan itu boleh dengan catatan harus didampingi dengan akal dan tidak lupa kita mencintai karena Allah Tuhan kita yang menciptakan.

B. Saran

Hiduplah mencintai alam karena Allah SWT lah yang menciptakan bukan karena dunia ataupun materi alam agar kita selalu mendapat Ridho-Nya samapi ke surga nanti.

Kami sadari bahwa makalah ini penuh dengan kekurangan serta kekhilafan dan kami tim penulis mengharapkan saran dan kritik kepada pembaca agar kami bisa membuat makalah lebih baik kedepannya.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Abu al-Husein, Mu’jam Maqayis al-Lugah, Beirut: Dar Iḥya al-Turas  al-‘Arabiy, 2001.

As-Suyuthi, Jalaluddin, Asbabun Nuzul: Sebab-Sebab Turunnya Ayat, Jakarta: Gema Insani, 2008.

Hasyim, Muhammad Syarif, Al-‘Alam Dalam Al-Qur’an (Analisis tentang Ayat-ayat penciptaan):  Batasan Alam, Vol. 9, No. 1, 2012.

Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida, Tafsir Al-Qur‟an Al-‘azhim: Tafsir Ibnu Kasir, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000.

Tim Redaksi kamus bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa Departeman Pendidikan Nasional, 2008.

Zulaekah, Norma Hak Milik Dalam Al-Qur’an: Format Pengungkapan Hak Milik Dalam Al-Qur’an, Vol. 1, No. 2, 2014.

Artikel Online:

https://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-29#tafsir-jalalayn.

https://tafsirq.com/7-al-araf/ayat-54#tafsir-jalalayn.

https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-190#tafsir-jalalayn.

https://tafsirq.com/14-ibrahim/ayat-32#tafsir-jalalayn.

https://tafsirq.com/14-ibrahim/ayat-34#tafsir-jalalayn.

https://tafsirq.com/57-al-hadid/ayat-27#tafsir-jalalayn.



[1] Abu al-Husein Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Mu’jam Maqayis al-Lugah, Beirut: Dar Iḥya al-Turas  al-‘Arabiy, 2001, hlm. 663.

[2] Tim Redaksi kamus bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa Departeman Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 33-34. 

[3] Muhammad Syarif Hasyim, Al-‘Alam Dalam Al-Qur’an (Analisis tentang Ayat-ayat penciptaan):  Batasan Alam, Vol. 9, No. 1, 2012, hlm. 58-62.

[4] Zulaekah, Norma Hak Milik Dalam Al-Qur’an: Format Pengungkapan Hak Milik Dalam Al-Qur’an, Vol. 1, No. 2, 2014, hlm. 181-182.

[5] https://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-29#tafsir-jalalayn, diakses pada tanggal 10 April 2020, pukul 7:12 WIB.

[6] https://tafsirq.com/7-al-araf/ayat-54#tafsir-jalalayn, diakses pada tanggal 10 April 2020, pukul 7:46 WIB.

[7] Jalaluddin as-Suyuthi, Asbabun Nuzul: Sebab-Sebab Turunnya Ayat, Jakarta: Gema Insani, 2008, hlm. 148-149.

[8] Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al-Qur‟an Al-‘azhim: Tafsir Ibnu Kasir, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000, hlm. 358.

[9] https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-190#tafsir-jalalayn, diakses pada tanggal 10 April 2020, pukul 7:54 WIB.

[10] https://tafsirq.com/14-ibrahim/ayat-32#tafsir-jalalayn, diakses pada tanggal 10 April 2020, pukul 7:59 WIB.

[11] https://tafsirq.com/14-ibrahim/ayat-34#tafsir-jalalayn, diakses pada tanggal 10 April 2020, pukul 8:08 WIB.

[12] https://tafsirq.com/57-al-hadid/ayat-27#tafsir-jalalayn, diakses pada tanggal 10 April 2020, pukul 8:12 WIB.


0 Komentar